Minggu, 29 September 2019

Laju Endap Darah (LED)

LAJU ENDAP DARAH
   Laju Endap Darah adalah kecepatan mengendapnya eritrosit dari suatu
sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat tertentu yang dinyatakan dalam
mm/jam.Tes laju endap darah digunakan untuk menilai kondisi peradangan atau infeksi di tubuh. Prosedur ini dilakukan dengan pengambilan darah, yang kemudian diperiksa untuk mengukur pengendapan sel darah merah sebagai gambaran peradangan yang terjadi.
LED sering juga diistilahkan dalam bahasa asing BBS (Blood Bezenking
Snelheid), BSR (Blood Sedimentation Rate), ESR (Erytrocyte Sedimentation
Rate) dan dalam bahasa indonesianya adalah KPD (Kecepatan Pengendapan
Darah).
    Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan
rouleaux, tahap pengendapan dan tahap pemadatan. Di laboratorium cara untuk
memeriksa Laju Endap Darah (LED) yang sering dipakai adalah cara Wintrobe
dan cara Westergren.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) adalah
    Faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul darah
yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan
eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan Laju Endap Darah (LED)
cepat. Pembentukan rouleaux tergantung dari komposisi protein plasma.
Peningkatan kadar fibrinogen dan globulin mempermudah pembentukan
roleaux sehingga Laju Endap darah (LED) cepat, sedangkan kadar albumin yang
tinggi menyebabkan Laju Endap Darah (LED) lambat.

FASE-FASE LED
a. Fase pertama (fase pembentukan rouleaux)
    Pada fase ini terjadi rouleaux formasi yaitu eritrosit mulai saling
menyatukan diri. Waktu yang dibutuhkan adalah dari beberapa menit hingga 30
menit. Adanya makromolekul dengan konsentrasi tinggi di dalam plasma, dapat
mengurangi sifat saling menolak di antara sel eritrosit, dan mengakibatkan
eritrosit lebih mudah melekat satu dengan yang lain, sehingga memudahkan
terbentuknya rouleaux.
    Rouleaux adalah gumpalan eritrosit yang terjadi bukan karena antibodi atau
ikatan konvalen, tetapi karena saling tarik-menarik di antara permukaan sel. Bila
perbandingan globulin terhadap albumin meningkat atau kadar fibrinogen sangat
tinggi, pembentukan rouleaux dipermudah hingga LED meningkat.
b. Fase kedua (fase pengendapan cepat)
    Fase ini disebut juga fase pengendapan maksimal, karena telah terjadi
agregasi atau pembentukan rouleaux atau dengan kata lain partikel – partikel
eritrosit menjadi lebih besar dengan permukaan yang lebih kecil sehingga
menjadi lebih cepat pula pengendapannya. Kecepatan pengendapan pada fase ini
adalah konstan. Waktunya 30 menit sampai 120 menit.
c. Fase ketiga (fase pengendapan lambat/ pemadatan)
    Fase ini terjadi pengendapan eritrosit yang sangat lambat. Dalam keadaan
normal dibutuhkan waktu setengah jam hingga satu jam untuk mencapai fase
ketiga tersebut. Pengendapan eritrosit ini disebut sebagai laju endap darah dan
dinyatakan dalam mm/1jam.